TANGGAL 10 MEI DIPERINGATI SEBAGAI HARI LUPUS SEDUNIA

Dinkes Aceh Tengah 10-05-2019 10:05 Dinkes

Agar bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit lupus, World Lupus Federation menetapkan setiap 10 Mei sebagai Hari Lupus Sedunia. Penyakit lupus menjadi salah satu masalah kesehatan global yang sudah menyerang orang di penjuru dunia. Walau demikian, masih sedikit orang yang mengetahui tentang bahaya penyakit ini. Oleh sebab itu, dalam peringatan Hari Lupus Sedunia, mengedukasikan kepada masyarakat tentang penyakit lupus hingga pencegahannya.


A. Pengertian Lupus

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah suatu penyakit autoimun pada jaringan ikat. Autoimun berarti bahwa sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri. Pada SLE ini, sistem imun terutama menyerang inti sel (Matt, 2003). Menurut dokter umum Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) dr Fajar Rudy Qimindra (2008) , Lupus atau SLE berasal dari bahasa latin yang berarti anjing hutan. Istilah ini mulai dikenal sejak abad ke-10. Sedang eritematosus berarti merah. Ini untuk menggambarkan ruam merah pada kulit yang menyerupai gigitan anjing hutan di sekitar hidung dan pipi. Sehingga dari sinilah istilah lupus tetap digunakan untuk penyakit Systemic Lupus Erythematosus. Gejala awalnya sering memberikan keluhan rasa nyeri di persendian. Tak hanya itu, seluruh organ pun tubuh terasa sakit bahkan terjadi kelainan pada kulit, serta tak jarang tubuh menjadi lelah berkepanjangan dan sensitif terhadap sinar matahari. Dikatakan Qimindra, batasan penyakit ini adalah penyakit autoimun, sistemik, kronik, yang ditandai dengan berbagai macam antibodi tubuh yang membentuk komplek imun, sehingga menimbulkan reaksi peradangan di seluruh tubuh. Autoimun maksudnya, tubuh penderita lupus membentuk daya tahan tubuh (antibodi) tetapi salah arah, dengan merusak organ tubuh sendiri, seperti ginjal, hati, sendi, sel darah dan lain-lain. Padahal antibodi seharusnya ditujukan untuk melawan bakteri atau virus yang masuk tubuh. Sedangkan sistemik memiliki arti bahwa penyakit ini menyerang hampir seluruh organ tubuh. Sementara kronis, maksudnya adalah sakit lupus ini bisa berkepanjangan, kadang ada periode tenang lalu tiba-tiba kambuh lagi. Penyakit lupus lebih banyak menyerang wanita usia 15-45 tahun dengan perbandingan mengenai perempuan antara 10-15 kali lebih sering dari pria. Artinya, penyakit ini sering mengenai wanita usia produktif tetapi jarang menyerang laki-laki dan usia lanjut. Sebetulnya terdapat tiga jenis penyakit lupus, yaitu lupus diskoid, lupus terinduksi obat dan lupus sistemik atau SLE ini.


B. Gejala Lupus

Pada awal perjalanannya, penyakit ini ditandai dengan gejala klinis yang tak spesifik, antara lain lemah, kelelahan yang sangat, lesu berkepanjangan, panas, demam, mual, nafsu makan menurun, dan berat badan turun. Gejala awal yang tidak khas ini mirip dengan beberapa penyakit yang lain. Oleh karena gejala penyakit ini sangat luas dan tidak khas pada awalnya, maka tidak sembarangan untuk mengatakan seseorang terkena penyakit lupus. Akibat gejalanya mirip dengan gejala penyakit lainnya, maka lupus dijuluki sebagai penyakit peniru. Julukan lainnya adalah si penyakit seribu wajah. Karena itu, biasanya pasien melakukan shopping doctor (berpindah-pindah dokter) sebelum diagnosis penyakitnya dapat ditegakkan. Menurut American College Of Rheumatology 1997, yang dikutip Qiminta, diagnosis SLE harus memenuhi 4 dari 11 kriteria yang ditetapkan. Adapun penjelasan singkat dari 11 gejala tersebut, adalah sebagai berikut: 1. Ruam kemerahan pada kedua pipi melalui hidung sehingga seperti ada bentukan kupu-kupu, istilah kedokterannya Malar Rash/Butterfly Rash. 2. Bercak kemerahan berbentuk bulat pada bagian kulit yang ditandai adanya jaringan parut yang lebih tinggi dari permukaan kulit sekitarnya. 3. Fotosensitive, yaitu timbulnya ruam pada kulit oleh karena sengatan sinar matahari 4. Luka di mulut dan lidah seperti sariawan (oral ulcers). 5. Nyeri pada sendi-sendi. Sendi berwarna kemerahan dan bengkak. Gejala ini dijumpai pada 90% odapus. 6. Gejala pada paru-paru dan jantung berupa selaput pembungkusnya terisi cairan. 7. Gangguan pada ginjal yaitu terdapatnya protein di dalam urine. 8. Gangguan pada otak/sistem saraf mulai dari depresi, kejang, stroke, dan lain-lain. 9. Kelainan pada sistem darah di mana jumlah sel darah putih dan trombosit berkurang. Dan biasanya terjadi juga anemia 10. Tes ANA (antinuclear Antibody) positif 11. Gangguan sistem kekebalan tubuh. Gejala awal penyakit lupus pada ibu yang memeriksakan dirinya pada seorang dokter yang diceritakan di depan telah memenuhi sebagian dari gejala penyakit lupus. Dari pemeriksaan jasmani didapatkan keadaan umum dan kesadaran baik, tekanan darah normal, nadi normal baik dari jumlah denyut maupun isi nadi, fekwensi pernafasan normal, dan suhu sedikit meningkat. Selain itu didapatkan adanya radang pada tenggorokan dan kelainan seperti kupu-kupu yang berwarna merah coklat “Butterfly Rash”, di pipi kedua dan hidung dan radang amandel. Gejala klinis penyakit lupus ini, menurut Qimindra, sangat luas dan tergantung bagian tubuh mana yang terkena. Mulai dari yang ringan berupa bintik-bintik merah di kulit yang terasa gatal dan sakit, kerontokan tambut, sensitifitas terhadap cahaya terutama sinar matahari, serta nyeri sendi sampai yang berat karena menyerang organ tubuh yang vital seperti otak, jantung, paru-paru dan ginjal.


C. Kerusakan Organ Akibat SLE dan Diagnosisnya

SLE menyebabkan peradangan jaringan dan masalah pembuluh darah yang parah di hampir semua bagian tubuh, terutama menyerang organ ginjal. Jaringan yang ada pada ginjal, termasuk pembuluh darah dan membran yang mengelilinginya mengalami pembengkakan dan menyimpan bahan kimia yang diproduksi oleh tubuh yang seharusnya dikeluarkan oleh ginjal. Hal ini menyebabkan ginjal tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Penderita biasanya tidak menyadari adanya gangguan pada ginjalnya, hingga kerusakannya menjadi parah, bahkan mungkin baru disadari setelah ginjal mengalami kegagalan. Peradangan pada penderita SLE juga dapat terjadi pada selaput dalam, selaput luar dan otot jantung. Jantung dapat terpengaruh meskipun tidak pernak mengalami gejala gangguan jantung. Masalah yang paling umum adalah terjadi pembengkakan pada endokardium dan katup jantung. SLE juga menyebabkan peradangan dan kerusakan kulit berupa ruam merah terutama di bagian pipi dan hidung. Hampir seluruh penderita SLE mengalami rasa sakit dan peradangan sendi. SLE dapat mempengaruhi semua jenis sendi, namun yang paling umum adalah tangan, pergelangan tangan dan lutut. Terkadang sendisendi mengalami pembengkakan. Selain itu otot juga tidak luput dari serangan SLE. Biasanya penderita mengeluhkan rasa sakit dan melemahnya otot-otot atau jaringan otot mengalami pembengkakan. Pada stadium lanjut, SLE dapat menyebabkan kematian tulang yang disebut dengan osteonekrosis. Hal ini dapat menyebabkan cacat yang serius. SLE dapat menyerang sistem syaraf dengan gejala sakit kepala, pembuluh darah di kepala yang tidak normal dan organic brain syndrome, yaitu masalah yang serius pada memori, konsentrasi dan emosi serta halusinasi. Selain itu, serangan pada paru-paru dan darah juga biasanya terjadi. Masalah pada jantung dapat berupa peradangan, perdarahan, penggumpalan darah pada arteri, kontraksi pembuluh darah dan pembengkakan paru-paru. Sedangkan penurunan jumlah sel darah merah dan sel darah putih sehingga menyebabkan anemia. Untuk memastikan adanya penyakit Systemic Lupus Erythematosus dibutuhkan pemeriksaan laboratorium khusus yang disebut sebagai Antinuclear Antibody (ANA) dan Anti Double Stranded DNA. Test ANA akan meningkat pada penderita Rheumatoid dan Systemic Lupus Erythematosus, sedangkan pemeriksaan anti body Anti Double Stranded DNA sangat spesifik bagi penderita Systemic Lupus Erythematosus. Ternyata hasilnya dari Ibu K positif dengan tinggi yang memastikan ibu K menderita penyakit Systemic Lupus Erythematosus, dan untuk pengobatan secara intensif, pasien tersebut dirujukkan ke ahli penyakit dalam yang khusus menangani pegobatan penyakit Systemic Lupus Erythematosus. Pada kasus penyakit lanjut, sering didapatkan adanya cairan di rongga paru atau di rongga jantung yang menyebabkan penderita sesak nafas. Gejala ini mirip dengan penyakit jantung kronis atau penyakit paru kronis, sehingga menyebabkan salah diagnosa dan berakhir dengan kematian. Kebocoran ginjal akan segera terjadi bila penyakit ini tidak diobati dengan tepat, dan ditandai dengan meningkatnya kadar albumin pada pemeriksaan air seni serta bengkak-bengkak di seluruh tubuh. Organ lain yang juga diserang adalah sistem saraf penderita sehingga berakibatkan penderita merasa kesemutan dan dapat mengalami kelumpuhan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya peningkatan kadar ANA, Anti Double Stranded DNA, disertai dengan kurangnya sel darah merah (anemia), menurunnya jumlah sel darah putih, dan menurunnya sel pembeku darah. Selain itu sering didapatkan adanya test syphilis palsu akibat penurunan kekebalan tubuh, walaupun yang bersangkutan tidak menderita penyakit syphilis dan menyebabkan salah pengobatan bila sang dokter kurang teliti. Penyakit ini akan lebih mudah diobati bila segera ditemukan pada stadium dini, diobati dengan tepat dan meminum obat secara teratur. Kasus di atas merupakan bukti bahwa dalam waktu dua bulan dengan minum obat teratur sesuai resep dokter, penderita saat ini sudah dalam keadaan terkontrol, test-test darah sudah negatif, ruam ruam merah di kulit menghilang namun tetap penderita harus tetap minum obat sesuai resep dokter.


D. Penyebab dan Mekanisme Penyakit SLE

Para dokter dan peneliti belum dapat mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan penyakit ini. Hereditas memegang peranan yang cukup besar, karena jika kita memiliki kerabat yang menderita SLE ada potensi pada tubuh kita untuk menderita SLE. Namun faktor gen ini bukan satu-satunya penyebab, karena sepertinya timbulnya penyakit ini dipicu dengan cara yang belum diketahui. Beberapa pemicu yang banyak diajukan oleh peneliti sebagai pemicu SLE diantaranya adalah infeksi virus, stress, diet, toksin, termasuk beberapa jenis obat-obatan yang diresepkan dokter. Pemicu-pemicu ini, sedikit dapat menjelaskan mengapa penyakit ini timbul dan hilang silih berganti. Pada penderita lupus, sistem imun tubuh memproduksi antibodi yang melawan tubuhnya sendiri, terutama protein yang terdapat di nukleus. SLE juga dipicu oleh faktor lingkungan yang tidak diketahui (mungkin termasuk virus) pada orangorang yang memiliki kombinasi gengen tertentu dalam sistem imunnya.


SUMBER : 

http://dinkes.acehtengahkab.go.id/file/fotoberita/2019/05/474-1311-1-PB.pdf




Terkait